A. Latar
Belakang
Memang harus diakui, kecenderungan orang semakin mengesampingkan
pentingnya penggunaan bahasa, terutama dalam tata cara
pemilihan kata atau diksi.
Terkadang kita pun tidak mengetahui pentingnya
penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar, sehingga ketika kita
berbahasa, baik lisan maupun tulisan, sering mengalami
kesalahan dalam penggunaan kata, frasa, paragraf, dan
wacana.
Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman yang
baik ihwal penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting,
bahkan mungkin vital, terutama untuk menghindari
kesalapahaman dalam berkomunikasi.
Diksi atau pilihan kata dalam praktik berbahasa
sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapat juga frasa atau
kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau
pendengarnya.
Indonesia
memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan
bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter
berbeda-beda sehingga penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana
komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. Sebagai makhluk sosial kita
tidak bisa terlepas dari berkomunikasi dengan sesama dalam setiap aktivitas.
Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi
dengan pihak lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi
dikarenakan pemilihan kata yang kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham.
Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu
keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal
pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut
terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya
digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis
(jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan kata (diksi) mempengaruhi
pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.
Dalam makalah ini, penulis berusaha menjelaskan mengenai diksi yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya
bahasa, ungkapan, kata kajian, kata popular, kata sapaan dan kata serapan.
B. Rumusan masalah
Adapun yang menjadi rumusan
makalah ini adalah:
- Pengertian Diksi (Plihan Kata)
- penerapan
diksi (pilihan kata) dalam kalimat ragam formal
- pembahagian
Diksi (Pilihan Kata)
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian makna kata, diksi, dan gaya
bahasa,
2. Mampu menggunakan bahasa yang
tepat dalam berkomunikasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DIKSI
Diksi dalam
artian yang pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis dan pembicara. Atinya yang kedua
adalah enusiansi kata.1
seni bicara yang jelas sehingga dapat di pahami oleh
pendengar.2
Pengertian diksi atau pilihan kata jauh lebih
luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan
saja di pergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang di pakai untuk
mengungkapkan suatu ide atau gagasan tetapi juga meliputi fraseeologi, gaya
bahasa yang di ungkapkan. Fraseologi mencakup pesoalan kata-kata pengelompokan
atau susunannya atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk
ungkapan-ungkapan.
Selain itu diksi menurut pendapat lain adalah ketepatan
pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan
kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan
efektif kepada pembaca dan pendengarnya. Dalam memilih kata yang
setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari
kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian
kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan. Kata yang
tepat dapat membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin
disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Selain itu, pemilihan kata itu juga
harus sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu
B. PENERAPAN DIKSI (pilihan kata) DALAM
KALIMAT RAGAM FORMAL
Dalam penggunaan kata-kata dalam
kalimat harus dipilih secara tepat, sehingga dapat mengungkapkan maksud anda.
Beberapa alasan untuk memilih kata dan menggunakannya secara
tepat.
1. Kata-kata ada yang memiliki makna
denotatif dan adapila sekaligus memiliki makna konotatif.
2. Kata-kata yang memiliki makna umum
dan makna khusus.
3. Kata-kata ada yang memiliki makna
sinonim.
4. Kata-kata ada yang berupa
kata ragam formal (baku) dan kata ragam percakapan
(non baku).
5. Kata-kata perlu digunakan secara
tepat.
6. Kata-kata perlu di tulis secara
benar.
Hal itu di jelaskan satu persatu, sebagai berikut :
Denotatif dan Konotatif
Makna Denotatif adalah makna dalam
alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan
apa adanya. Denotatif adala suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara
objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan,
misalnya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan.
Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Contoh kata denotatif :
-
Membicarakan
-
Memperlihatkan
-
penonton
Makna Konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan kepada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
Contoh kata Konotatif :
-
Membahas, mengkaji
-
Menelaah, meneliti, menyelidiki
-
Pemirsa, pemerhati
Makna konotatif berbeda dari zaman
ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil
(denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini,
kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata itu adalah makna denotatif atau
konotatif.
Kata rumah monyet mengandung kata konotatif. Akan tetapi, makna konotatif itu tidak dapat diganti dengan kata lain sebab nama lain untuk kata itu tidak ada yang tepat. Begitu juga dengan istilah Rumah Asap.
Makna –makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu. Misal:
Rumah Gedung, wisma, Graha
Penonton Pemirsa, Pemerhati
Dibuat Dirakit, Disulap
Sesuai Harmonis
Tukang Ahli, Juru
Pembantu Asisten
Pekerja Pegawai, Karyawan
Makna Konotatif dan Makna Denotatif berkaitan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna Denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus. Kalimat dibawah ini menunjukkan hal itu,
Dia adalah wanita cantik (denotatif)
Dia adalah wanita manis (konotatif)
Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terdapat suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.
Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. Kata-kata yang berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh), mampus (lebih jelek daripada mati), dan gubuk (lebih jelek daripada rumah). Di pihak lain, kata-kata itu dapat pula mengandung arti kiasan yang terjadi dari makna denotatif referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih banyak berperan dalam hal ini.
Perhatikan kalimat dibawah ini,
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kata membanting tulang (yang mengambil dari suatu denotatif kata pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif. Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atua ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong ke dalam kata yang bermakna konotatif.
Kata rumah monyet mengandung kata konotatif. Akan tetapi, makna konotatif itu tidak dapat diganti dengan kata lain sebab nama lain untuk kata itu tidak ada yang tepat. Begitu juga dengan istilah Rumah Asap.
Makna –makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu. Misal:
Rumah Gedung, wisma, Graha
Penonton Pemirsa, Pemerhati
Dibuat Dirakit, Disulap
Sesuai Harmonis
Tukang Ahli, Juru
Pembantu Asisten
Pekerja Pegawai, Karyawan
Makna Konotatif dan Makna Denotatif berkaitan erat dengan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna Denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus. Kalimat dibawah ini menunjukkan hal itu,
Dia adalah wanita cantik (denotatif)
Dia adalah wanita manis (konotatif)
Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terdapat suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.
Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. Kata-kata yang berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh), mampus (lebih jelek daripada mati), dan gubuk (lebih jelek daripada rumah). Di pihak lain, kata-kata itu dapat pula mengandung arti kiasan yang terjadi dari makna denotatif referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih banyak berperan dalam hal ini.
Perhatikan kalimat dibawah ini,
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kata membanting tulang (yang mengambil dari suatu denotatif kata pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif. Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atua ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong ke dalam kata yang bermakna konotatif.
Makna Umum Dan Khusus
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada kata mujair atau lele. Ikan tidak hanya mujair atau lele, tetapi ikan terdiri dari beberapa macam, seperti gurame, sepat, tuna, baronan. Sebaliknya lele pasti tergolong jenis ikan; demikian pula dengan gurame, sepat, tuna, dan baronang pastilah jenis ikan. Dalam hal ini kata yang acuannya lebih luas adalah Kata Umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut Kata Khusus, seperti gurame, tuna, lele, baronang.
Contoh kata bermakna umum yang lain adalah bunga. Kata bunga memiliki acuan yang lebih luas dibandingkan dengan kata mawar. Bunga bukan hanya mawar, melainkan juga melati, dahlia, anggrek dan cempaka. Sebaliknya, melati pasti jenis bunga; anggrek juga tergolong bunga, dahlia juga merupakan senjenis bunga. Kata bunga yang memiliki acuan yang lebih luas disebut kata umum, sedangkan kata dahlia memiliki acuan yang lebih khusus dan disebut kata khusus.
Pasangan kata umum dan kata khusus harus dibedakan dalam pengacuan yang generik dan spesifik.
Sapi, kerbau, kuda dan keledai adalah hewan-hewan yang termasuk segolongan, yaitu golongan hewan mamalia. Dengan demikian, kata hewan mamalia bersifat umum (generik), sedangkan sapi,kerbau, kuda adalah kata khusus (spesifik).
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada kata mujair atau lele. Ikan tidak hanya mujair atau lele, tetapi ikan terdiri dari beberapa macam, seperti gurame, sepat, tuna, baronan. Sebaliknya lele pasti tergolong jenis ikan; demikian pula dengan gurame, sepat, tuna, dan baronang pastilah jenis ikan. Dalam hal ini kata yang acuannya lebih luas adalah Kata Umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut Kata Khusus, seperti gurame, tuna, lele, baronang.
Contoh kata bermakna umum yang lain adalah bunga. Kata bunga memiliki acuan yang lebih luas dibandingkan dengan kata mawar. Bunga bukan hanya mawar, melainkan juga melati, dahlia, anggrek dan cempaka. Sebaliknya, melati pasti jenis bunga; anggrek juga tergolong bunga, dahlia juga merupakan senjenis bunga. Kata bunga yang memiliki acuan yang lebih luas disebut kata umum, sedangkan kata dahlia memiliki acuan yang lebih khusus dan disebut kata khusus.
Pasangan kata umum dan kata khusus harus dibedakan dalam pengacuan yang generik dan spesifik.
Sapi, kerbau, kuda dan keledai adalah hewan-hewan yang termasuk segolongan, yaitu golongan hewan mamalia. Dengan demikian, kata hewan mamalia bersifat umum (generik), sedangkan sapi,kerbau, kuda adalah kata khusus (spesifik).
Kata makna bersinonim
Kata
bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki
makna yang hampir mirip atau serupa.
Dalam
penggunaan kata besinonim harus memilih kata yang tepat dalam kalimat ragam formal.
Karena
meskipun bersinonim pada dasarnya memiliki perbedaan dalam konteks
penggunaannya.
Contoh
kata bersinonim :
-
Cerdas = cerdik, hebat, pintar.
-
Besar =
agung, raya
-
Mati
= mangkat,wafat,meninggal
-
Ilmu
= pengetahuan
-
Penelitian = penyelidikan
Kata baku dan non-baku
Kata
baku dan non-baku dapat dilihat berdasarkan beberapa ranah seperti :
a. Ranah finologis
Kata
baku yang memiliki kata non-baku karena :
- penambahan fonem
Kata baku kata
non baku
Imbau himbau
Andal handal
Utang hutang
- pengurangan fonem
Kata baku kata
non-baku
Terap trap
Terampil trampil
Tetapi tapi
Tidak tak
-
pengubahan fonem
Kata baku kata
non-baku
Telur telor
Ubah obah
Tampak nampak
b. Ranah morfologis
Kata
baku yang memiliki kata nonbaku karena
hasil proses morfologis.
-
pengurangam fonem
Kata baku kata non-baku
Memfokuskan memokukan
Memprotes memrotes
Memfitnah memitnah
-
pengubahan fonem
Kata baku kata non-baku
Mengubah merubah
- penggantian afiks
Kata baku kata non-baku
Menangkap
nangkap
Menatap natap
Mengambil
ngambil
Menahan
nahan
- kelebihan fonem
Kata baku kata
non-baku
Beracun
berracun
Beriak
berriak
Beribu
berribu
Becermin
bercermin
c.
Ranah leksikon
Kata
(frasa) baku yang memiliki kata (frasa) non-baku yang terdapat dalam ragam percakapan.
Cotoh pasangan kata (frasa) baku dan kata (frasa) non-baku
sebagai berikut :
Frasa baku frasa non-baku
Tidak terlalu tidak begitu
Belum masak belum
matang
Tidak mau enggak
mau
Hanya nasi nasi
doang
Selain menggunakan kalimat ragam formal,
juga menggunakan ragam percakapan,
contoh nya :
frasa
baku frasa
non-baku
waktu lain lain waktu
Amat besar besar amat
Amat mahal mahal amat
pertama kali kali
pertama
Dalam kalimat ragam formal, kita sering membuat kata-kata
yang maknanya redundan. Artinya,kata-kata
yang di gunakan sudah melebihi makna, contohnya :
frasa
baku frasa non-baku
Sangat pedih amat
sangat pedih, amat pedih
Paling kaya paling
terkaya terkaya
Dalam bahasa indonesia, karena adanya penyerapan
bahasa asing atau bahasa daerah (sanskerta) terdapat pasangan kata baku dan
non-baku. Maka harus memilih dan menggunakan kata serapan yang sudah di
bakukan.
Kata baku kata
non-baku
Apotek apotik
Asas azas
Asasi azasi
Analisis analisa
5. Penggunaan kata secara tepat
Dalam
kalimat ragam formal, kita perlu menggunakan kata-kata secara tepat dalam hal
penggunaan kata depan.4
Seprti :
-
Kata di seharusnya di gunakan pada,
contoh
Penggunaan kata yang tepat penggunaan
kata yang tidak tepat
Pada
siang hari di
siang hari
Pada
pagi hari di
pagi hari
Pada
kita di
kita
-
Kata ke yang seharusnya di gunakan
kepada, contoh :
Penggunaan kata yang tepat penggunaan
kata yang tidak tepat
Kapada kami ke kami
Kapada
kita ke
kita
Kepada
ibu ke
ibu
Dalam penggunaan kata depan dan kata penghubung harus digunakan secara tepat, yang sesuai
dengan jenis keterangan dalam jenis kalimat,:
1. Untuk keterangan tempat di gunakan kata
di, ke, dari, di dalam, pada.
2. Untuk keterangan waktu digunakan
kata pada, dalam, setelah, sebelum, sesudah, selama, sepanjang.
3. Untuk keterangan alat di gunakan
kata dengan.
4. Untuk keterangan tujuan digunakan
kata agar, supaya, untuk, bagi, demi.
5. Untuk keterangan cara digunakan kata
dengan, secara, dengan cara, dengan jalan.
6. Untuk keterangan penyerta di gunakan
kata dengan, bersama, beserta.
7. Untuk keterangan perbandingan atau
kemiripan digunakan kata seperti, bagaikan,laksana.
8. Untuk keterangan sebab di gunakan
kata karena, sebab.
6. Penulisan kata secara benar
Dalam
kalimat ragam formal, harus menuliskan kata secara benar seperti :
-
Penulisan kata depan di yang benar
adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
-
Penulisan kata depan ke yang benar
adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
-
Penulisan kata depan dari yang benar
adalah di tulis secara terpisah dari kalimat yang sesudahnya.
Selain kesalahan
penulisan kata depan (preposisi), sering pula kesalahan sebagai berikut :
-
penulisan partikel non seperti pada
contoh :
penulisan yang benar penulisan
yang salah
Non-Indonesia non
Indonesia
Non-batak
non batak
Nonformal non
formal, non-formal
-
penulisan partikel sub seperti pada
contoh :
penulisan yang
benar penulisan
yang salah
subbab
sub
bab, sub-bab
subbagian
sub
bagian, sub-bagian
-
penulisan pertikel per seperti pada
contoh :
penulisan
yang benar penulisan yang
salah
per
jam perjam
per
bulan perbulan
per
tahun pertahun
-
penulisan kata per
kata
per yang memiliki arti ‘menjadikan lebih’ atau memperlakukannya sebagai’
Penulisan yang benar penulisan yang salah
Perbesar per
besar
Persingkat per
singkat
Dalam bahasa indonesia, kata “ pun “ yang mempunyai arti :
”juga” harus di tuliskan secara terpisah dengan kata yang di
ikutinya
Penulisan yang benar
penulisan yang salah
Aku pun akupun
Sedikit pun sedikitpun
kata
pun pada kata tertentu yakni ungkapan yang sudah padu harus di tuliskan
serangkai dengan kata yang diikutinya.
Penulisan yang benar penulisan
yang salah
Meskipun
meski
pun
Bagaimanapun
bagaimana
pun
Dalam
kata pasca, bentuk terikat pasca di tulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
Penulisan
yang benar penulisan
yang salah
Pascasarjana
pasca
sarjana, pasca-sarjana
Pascapanen
pasca
panen, pasca-panen
Selain
itu dalam penulisan awalan tertentu, seperti :
Penulisan yang benar penulisan
yang salah
Betolak
belakang betolaktolang
Mendarah
daging mendarahdaging
7. Homonim, Homofon, Homograf
a. Homonim
Homo
artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi
beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan, dan dan pemegang uang dalam
perjudian.
b. Homofon
Bunyi
atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna contoh :
Bank
: tempat menyimpan uang
Bang
: panggilan untuk kakak laki-laki
c.
Homograf
Sama
tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :
Ular
kobra itu bisanya mematikan
Aku
bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pilang karena latihan
8. Kata abstrak dan kata konkrit
Kata
abstrak berupa konsep
Contoh
: kebenaran pendapat itu begitu meyakinkan
Kata
kponkrit berupa objek yang dapat diamati
Contoh
: angka kelulusan SMA tingkat sumatera barat mengalami kenaikan hingga sembilan
persen. Membicarakan membahas, mengkaji.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Diksi adalah ketepatan pemilihan
kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan
yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif
kepada pembaca dan pendengarnya.
2.
Makna denotasi adalah makna yang
sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang
bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan
makna.
3.
Makna konotasi adalah makna yang
bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi
yang mengalami penambahan.
4. Makna umum adalah makna yang
memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.
5.
Makna khusus adalah makna yang
memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
6. Kata makna bersinonim
Kata
bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya memiliki
makna yang hampir mirip atau serupa.
7. Homonim artinya sama, nym berarti
nama, jdi homonim adalah sama nama.
8. Homofon adalah Bunyi atau suara yang
mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna.
9. Homograf adalah Sama tulisan,
berbeda bunyi dan berbeda makna.
DAFTAR PUSTAKA :
http://hafsahnasution.blogspot.com/
http://ilhamposts.blogspot.com/2012/11/makalah-pilihan-kata-diksi.html
http://senseleaf.blogspot.com/2012/03/diksi.html
http://irpantips4u.blogspot.com/2011/10/makalah-diksi.html
http://ilfen.blogspot.com/2012/11/program-konversi-kode-ascii-ke-biner.html
http://irpantips4u.blogspot.com/2011/10/makalah-diksi.html
http://ilfen.blogspot.com/2012/11/program-konversi-kode-ascii-ke-biner.html